Jumat, 13 November 2015

Maroon

Dia kembali.

Nama yang sering terlintas di benakku ketika kegelapan yang disertai hujan mulai turun. Sosok yang selalu menyelinap di cela kecil otakku ketika tugas terlalu banyak bertengger di meja belajar itu. Seseorang yang tak pernah kulupakan, meski hanya aku yang merasakan.

Debaran jantung dengan cepatnya dapat kurasakan. Otak yang semula bekerja normal, tiba-tiba terasa seperti ada kayuhan sepeda yang memaksa untuk berjalan lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Nama itu kembali. Nama itu mucul lagi dengan kabar yang tak pasti.

Saat itu, sesuatu yang beberapa bulan hilang, terasa hadir kembali. Desiran-desiran dalam hati kini datang lagi setelah lama tak dapat nyata kurasakan. Aku tak percaya ini terjadi secara tiba-tiba. Tapi tak bisa ku elak, ini benar-benar terjadi. Sesuatu yang sejak lama kusebut rindu, kini nyata kembali.

Bukan berarti rindu itu telah pulih. Rindu itu masih tersimpan sangat dalam. Entah apa yang membuatku mampu menyimpannya sampai sejauh ini. Rindu itu tak pernah hilang--bahkan mungkin tak akan pernah hilang. Sekalipun jika aku melihatnya dengan nyata.

Karena sebenarnya, bukan hanya sosok yang kurindui, tetapi juga waktu yang dulu membawaku merasakan kedamaian yang belum kujumpai lagi sampai saat ini. Dan tempat dimana aku tak bisa melupakan kenangan nano-nano itu, masih dapat kuterka dengan sangat baik.

Banyak hal yang sebenarnya ingin kutulis di lembar fiksi ini. Tetapi sesak membuatku tak dapat menceritakan rasa yang saat ini menyebar diseluruh tubuhku. Aku tak menangis. Tetapi sesak itu ada. Sesak itu nyata, ketika kulihat namanya muncul kembali. Entah dengan sikap yang masih sama atau telah berbeda.

Yang menyedihkan saat ini adalah, aku tahu dia kembali, tapi aku tak dapat terlihat senang dengan kedatangannya. Aku tahu dia ada, tapi aku tak bisa melihatnya secara nyata. Aku masih tersenyum karenanya, meskipun tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

Hai matahari, terimakasih telah kembali menyinari, meskipun waktu akan membawamu pergi lagi.