Jumat, 25 Desember 2015

Black & White

Hidup ini memang lucu.

Saat kesedihan melanda, kebahagiaan datang dengan warna-warninya.
Juga saat bahagia terukir, sedih dengan lancangnya merasuki kehidupan.
Itulah kalimat basi yang sering terlontar di cerita-cerita fiksi. Namun memang begitu adanya. Dan aku menyutujuinya.

Sesuatu yang sangat aku hargai di hidup ini adalah...

Waktu.

Aku benci waktu. Tapi terkadang aku menunggunya.
Waktu membuat orang berjalan diatas beling-beling kehidupan yang menyakitkan. Yang menusuk sampai ke dalam, dimana sebuah hati singgah.

Ketika senang, orang akan melupakan waktu. Tapi ketika sedih, waktu yang disalahkan, yang dibenci. Memang sulit menjadi waktu. Terkadang dibenci, terkadang pula ditunggu.

Satu hal yang membuatku benci terhadap waktu.
Waktu membuatku rindu. Dan rindu itu sakit. Apalagi merindukan seseorang, yang entah berada dimana, kabarnya bagaimana, dan wajahnya seperti apa sekarang.

Aku menunggu waktu untuk bertemu. Tapi waktu tak mewujudkannya. Waktu tak mengizinkan pertemuan antara aku dengan seseorang disana. Dia tetap tak ada, tetap menghilang. Masih tanpa kabar sedikitpun.

Tapi satu yang aku suka dari waktu.
Waktu membuatku tahu siapa/apa yang baik dan buruk di hidup ini. Siapa yang benar-benar sayang, dan siapa yang hanya perduli. Waktu membuatku mengenal hal-hal baru yang membuatku sadar betapa berharganya hidup. Waktu membuatku menjelajah kehidupan dengan hitam-putih uniknya. Waktu memberitahu bagaimana melupakan seseorang dengan cara dewasa.

Hai waktu, maafkan kelabilanku.

Sabtu, 05 Desember 2015

Dark Blue

Rasanya aku ingin berteriak.

Mengapa malam ini begitu kelam. Langit pun tak menampakkan sinar berlian para bintang. Yang kurasa hanyalah sesak yang terus mendesak. Aku ingin bercerita. Aku ingin menangis. Aku ingin melepas rindu yang kembali menyergap hatiku. Tetapi aku tak bisa.

Tak ada yang ingin mendengar ceritaku. Tak ada yang memperdulikan tangisku. Dan rindu pun tak mungkin kembali untukku.

Selamanya aku tak akan mampu meluluhkan hatinya. Selamanya aku adalah aku yang hanya dapat memendam rasa ini sendiri. Bersama Sang Pencipta yang mengetahui segala isi hati.

Rasanya aku ingin marah.

Mengapa aku mencintainya? Mengapa aku tak bisa menghilangkan rasa yang bahkan membuatku dadaku sesak setiap aku mengingatnya. Mengapa aku mampu bertahan sampai detik ini?

Aku ingin lepas. Aku ingin semangat pagiku selalu datang dari diriku sendiri. Aku ingin menjalankan hidup ini dengan kebahagiaan yang mampu membuatku tertawa lepas. Aku ingin melupakan rasa ini meskipun hanya sejenak. Aku ingin tersenyum sepanjang hari, tanpa malam yang menghantui.

Aku ingin bebas. Aku ingin bebas dari semua hal yang terus mengingatkanku akan dirinya. Aku ingin semua itu sirna, hilang, dan tak kembali. Tapi nyatanya semua selalu datang tanpa melihat waktu. Tanpa melihat keadaan. Dia kembali, meskipun bukan dengan penglihatanku, hanya dengan ingatanku.

Aku tak berusaha. Aku tak berusaha melupakanmu karena aku tahu itu akan berakhir sia-sia. Orang berkata, bahwa aku hanya perlu menjalankannya. Menjalankan hidup tanpanya. Namun apa yang terjadi? Satu per satu hal yang mampu mengingatkanku tentangnya, datang silih berganti. Aku pun tak mengerti pertanda apakah ini.

Jika kamu melihat ini. Aku hanya ingin berkata, maaf aku belum bisa. Aku masih memendam rasa ini. Sungguh, rasa ini sangat enggan keluar dari persembunyian dihatiku. Ia masih melekat erat disini. Dihatiku.

Jika kamu membaca ini. Kumohon berikan aku waktu lebih lama lagi untuk melupakanmu, tanpa membencimu. Tolong berikan aku kesempatan lebih banyak lagi untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Tolong jangan marah padaku tentang hal ini.

Dan jika kamu melihatku tertawa, tolong jangan tahan aku.

Tolong jangan mendekapku untuk kembali. Karena aku akan luluh lagi.

-