Minggu, 02 Oktober 2016

Wild Rose (2)

Mungkin tak pernah terbesit di otakmu,
bahwa aku mengagumimu.

Mungkin tak pernah terbayang di benakmu,
bagaimana jika aku mendo'akanmu.

Kau tahu,
Aku pun tak percaya dengan rasa ini.
Aku pun takut jika nanti akan kecewa.
Bukan padamu,
Tapi pada perasaan ini.

Tak ingin berharap pada angan.
Hanya ingin mengikuti alur cerita selanjutnya.
Menyiapkan diri bila nanti akan sakit hati.
Menguatkan hati bila memang harus pergi.

Tosca

Sungguh ini salah,
Senja tidak untuk pagi,
dan Fajar bukan untuk sore.

Kacau.
Tak terkendali.

Tak seharusnya begini,
Tak seharusnya seperti ini.

Tapi bukan inginku,
bukan kendaliku,
bukan hasratku.

Semua mengalir seperti air.
Dengan sendirinya, mengikuti arus deras.

Rasanya ingin berhenti,
ingin berhenti dari segala kegelisahan,
ingin diam dan tak berjalan kedepan,
ingin berlari melupakan semua

Perih,
bukan maksud menyakiti.
Namun hati berjalan sendiri.

Kamis, 29 September 2016

Warm Chocolate

Tak mengerti
Dengan semua permasalahan yang sedang terjadi.

Semua bermunculan kembali, tanpa terkendali
Sungguh, tak ingin aku begini.
Namun hati berjalan sendiri.

Musik indah,
Musik yang selalu membuatku jatuh cinta setiap aku mendengarnya.

Sabtu, 03 September 2016

Dark

ada yang mengganjal ketika malam telah datang
bukan kegelapan atau kesunyian
bukan pula angin yang mengintari malam

namun sang hati,
mengganjal setiap malam datang

entah,
seperti ada yang tak tersampaikan
seperti ada yang terpendam
seperti ada yang tersiksa
meski tak ada luka

hilang,
diri ini hilang dibawa angan
tak ada warna indah
hanya terselip hitam putih yang kelam

kesepain,
dalam dunia yang hingar bingar

Mactha

mentari yang cerah bersinarpun,
akan tenggelam dan tergantikan
oleh gemerlap bulan bintang

mawar putih indahpun,
akan mati termakan waktu

Tawa bahagiapun,
akan menjadi linangan air mata pada masanya

Lalu,
apa alasanmu memilihku?

Selasa, 12 Juli 2016

[blues]

telah banyak purnama berlalu
tetes embun jatuh setiap paginya
air hulu mengalir hingga ke  muara
sampai aku lelah menunggunya

menunggumu,
sampai berdebu.

jika waktu tak dapant menjelaskan,
biarkan diamku yang menyampaikan,
lalu diammu yang menyimpulkan.

[bahwa tidak ada,
tidak ada apa-apa,
diantara kau dan aku]

No Colours Available

Ada yang mengganjal ketika malam telah datang
Bukan kegelapan ataupun kesunyian
Bukan juga angin yang sedang mengintari malam

Namun sang hati,
Mengganjal setiap kali malam datang

Entah,
Seperti ada yang tak tersampaikan
Seperti ada yang terpendam
Seperti ada yang tersiksa
Namun tak ada luka

Hilang,
Diri ini hilang terbawa angan
Tak ada lagi warna indah
Hanya terselip hitam putih yang kelam

Kesepian,
Dalam dunia yang hingar bingar



-(midnight)

Tak Berwarna

angin indah,
kenyataan pahit.

jatuh, lalu bangun.

ingin lupakan,
namun,
semakin sakit rasa ini

No Colours Available

Ada yang mengganjal ketika malam telah datang
Bukan kegelapan ataupun kesunyian
Bukan juga angin yang sedang mengintari malam

Namun sang hati,
Mengganjal setiap kali malam datang

Entah,
Seperti ada yang tak tersampaikan
Seperti ada yang terpendam
Seperti ada yang tersiksa
Namun tak ada luka

Hilang,
Diri ini hilang terbawa angan
Tak ada lagi warna indah
Hanya terselip hitam putih yang kelam

Kesepian,
Dalam dunia yang hingar bingar



-(midnight)

Kamis, 18 Februari 2016

Wild Rose

Jika orang lain berlomba mendapatkan tatapan itu,
Mungkin aku tidak. Mungkin aku tak ingin.
Karena ku tahu, aku tak sanggup.

Tak sanggup menatap mata indah itu.
Tak sanggup menahan lengkungan senyum di bibirku.
Tak sanggup bila hati ini hidup kembali.
Dan tak sanggup bila kemudian harus menahan sakit lagi.

Ketika sebuah hati telah hancur tersakiti,
Mengapa rasa itu akan tumbuh kembali?
Mengapa tidak mati saja?
Mengapa seseorang dibiarkan tersakiti berulang kali?
Padahal rasanya begitu mencekat hati.

Jika dapat aku memohon,
Biarkanlah hati ini mati.
Dan kuizinkan angin dingin menyelimuti.
Biarkanlah hati ini hidup sendiri.
Dengan kesepian yang sunyi.
Dan biarkanlah aku tetap berdiri.
Tanpa seseorang yang menemani.

Sabtu, 02 Januari 2016

Peach

Ada kala dimana seseorang tak perlu menceritakan apa yang sedang ia rasakan.
Itu karena perasaannya terlalu mahal untuk diketahui orang awam.
Meskipun ia tahu, itu menyakitkan.

Ada saatnya dimana seseorang bahagia karena kehadiran kembali seseorang yang mengisi hatinya.
Meskipun ia tahu, kehadiran dia bukan untuknya, ia tetap bahagia.
Setidaknya dia kembali, setidaknya senyum itu mengembang lagi.

Rasanya terlalu manis untuk diceritakan. Bahagia itu sungguh tak terlukiskan. Hidupnya seakan berwarna lagi, meski ia tahu, dia akan pergi lagi. Tapi ia tak perduli. Hatinya terlalu bahagia untuk memikirkan hal-hal yang akan membuatnya sakit lagi. Sampai ia tak sadar, didepannya ada beling-beling yang akan menusuk hatinya (lagi).

Dan saat ia menginjaknya, beling-beling itu menusuk perlahan, membiarkan cairan merah keluar dengan derasnya. Rasanya beribu-ribu lebih sakit dari sakit yang ia pernah rasakan sebelumnya. Merobek sampai ke bagian yang terdalam. Meleburkan segala kebahagiaan yang ia banggakan. Menghancurkan. Merobohkan. Membakar. Sampai rasanya, hati itu hampir hilang, beserta perasaannya.

"Jangan kembali jika kau membawa luka itu lagi."

Dia selalu menggores hati, tetapi ia selalu menemukan obat penyembuhnya. Dia selalu mematahkan, tetapi ia selalu dapat memulihkan. Dia selalu membawa kesedihan, tetapi ia selalu tahu bagaimana cara menciptakan kebahagiaan.

Dia selalu dapat membuat jatuh, dan ia luluh dibuatnya.
Mungkin itu yang membuatnya bertahan sampai sekarang.

"Aku telah beberapa kali menyerah. Tetapi kau selalu mampu membuatku berjuang kembali, hanya untukmu."