Jumat, 30 Oktober 2015

Black

Hai matahariku,

Apa kabarmu disana? Sudah lama kita tak bertemu. Bagimana teman-temanmu disana? Apakah mereka baik padamu? Aku harap begitu. Bagaimana kamu menjalani aktifitasmu disana? Aku harap kamu senang dengan kehidupanmu.

Kamu tahu?
Aku senang dengan kehidupanku sekarang. Aku punya banyak teman yang baik. Aku menikmati keseharianku disini. Dan aku merasa nyaman akan semua itu.

Tapi, aku merasakan sesuatu hilang dari diriku. Awalnya, aku tak tahu apa itu. Sesuatu yang hilang begitu saja setelah hari perpisahan itu. Sesuatu yang pergi tanpa jejak kepastian. Sesuatu yang tidak kuketahui kabarnya. Sesuatu yang membuatku menulis kalimat panjang ini. Sesuatu yang terus mendesak hatiku. Sesuatu yang terus ada diotakku. Sesuatu yang.... tidak dapat kudefinisikan lebih panjang lagi.

Sesuatu yang sekarang kuketahui adalah kamu.

Aku tahu aku hanyalah seorang yang tak berarti dihadapanmu. Aku tahu aku hanyalah hembusan angin antara kau dan dia saat itu. Aku tahu aku hanyalah satu diantara beribu bintang di langit yang sedang mengelilingi dunia untuk mencari keberadaanmu. Aku tahu aku bukan dia yang dulu--atau sampai sekarang ada dihatimu.

Tapi bolehkah aku menunggumu? Aku tak bisa melupakanmu. Aku tak bisa menghilangkan memori yang berisi kisah-kisah melankolis antara aku denganmu yang aku tahu, hanya aku yang merasakan itu. Aku tak tahu sampai kapan aku akan bertahan dengan perasaan sesak seperti ini. Aku ingin. Ingin sekali mempertahankanmu dengan tidak menyukai orang lain. Tapi aku juga tak ingin rasa sesak ini terus mengganggu disetiap waktu luangku. Aku tak ingin rasa ini terus mengganggu aktifitasku. Aku tak ingin bayanganmu selalu terpampang jelas di memori otakku.

Aku ingin. Tapi tak ingin.

Kamu tahu bagaimana rasa sesak itu tiba-tiba datang padaku?

Seperti pisau yang ditancapkan di dadaku, kemudian ditarik perlahan oleh keadaan dan sembuh dengan sendirinya bagaikan terhanyut air sugai.

Aku tak dapat mendeskripsikannya dengan sempurna, tapi bagiku itu cukup untuk dapat kusampaikan padamu.

dariku,
yang merindukanmu

Senin, 12 Oktober 2015

Grey

Bolehkah aku bercerita?
Tentangmu.

Kumohon persilahkanlah aku untuk itu.

Aku mengenalmu.
Caramu berbicara, tertawa, merenung, aku tahu.
Karaktermu, sifatmu, watakmu, bahkan pikiranmu, aku tahu.
Bahagiamu,
Sedihmu,
Aku tahu.

Tetapi satu yang aku tidak tahu darimu,

adalah hatimu.

Hai, sang pemilik hati.
Kumohon.
Jangan bersikap seolah kau mencintaiku, jika kau tidak merasakan itu.
Jangan buat aku terperangkap dalam rasa yang sesungguhnya tak boleh kurasa.
Jangan berkata 'ya' jika kenyataannya 'tidak'

Kamu tahu?

Hati bukan untuk disakiti.

Tapi kau terlanjur.
Kau terlanjur melakukan itu.
Padaku.

Hai, sang pemilik hati.
Kenapa kau lakukan itu padaku?
Kenapa kau tega membiarkanku terus berharap padamu?
Kenapa kau membiarkanku menunggumu?

Hai, sang pemilik hati.
Kau tahu? Cinta yang tulus bukan seperti debu.
Cinta yang tulus adalah sebuah anugerah berharga yang sudah langka di Dunia ini.
Cinta yang tulus itu dari hati. Yang tersakiti.

Bolehkan aku menyatakan bahwa aku tulus mencintaimu?

Hai, sang pemilik hati.
Pernah aku lelah akan semua ini.
Tapi kau selalu hadir kembali menyapa hidupku.
Pernah aku menyerah.
Tapi langkahku sudah terlalu jauh untuk itu.
Pernah aku ingin melepasakan, bahkan melupakanmu.
Tapi ternyata perbuatan tidak seperti perencanaan.

Nyatanya,
Sekarang aku masih disini.
Berdiri tegar.
Dengan setumpuk egoisku,
yang membuatku kuat.
Tanpa kusadari.

Hai, sang pemilik hati.
Bolehkan aku meminta satu hal darimu?
Hanya satu,
dan aku yakin tidak menyulitkanmu.
yaitu,




Izinkan aku untuk tetap menunggumu.





-Hati

Selasa, 06 Oktober 2015

White

Aku manusia.
Aku wanita.
Aku perasa.
Karena aku punya hati.
Hati yang masih kosong.
Hati tanpa isi.
Tidak bermakna.
dan,
Hampa.

Tapi entah, aku merasa, seseorang telah mengisinya.

Dia hadir, tanpa kuminta.
Sungguh, aku tak ingin dan tak pernah ingin seseorang mengisi hatiku.
Aku menyukai kekosongan hatiku.
Tapi, aku juga tak bisa menolak ketika seseorang datang. Dengan sendirinya.
Entah sejak kapan.

Aku tidak ingin jatuh.
Orang berkata, jatuh itu sakit.
Jatuh itu membuat sedih.
Jatuh itu drama.
Apalagi jatuh cinta.

Tapi, bagaimana ini?
Dia datang tanpa kuminta.
Dia hadir dikehidupanku dengan sejuta pesonanya.
Dia membuatku bahagia setiap harinya.
Hanya dengan senyum simpulnya.

Dan kuakui, aku jatuh. Padanya.

Aku ingin bangkit, tetapi ia menahanku untuk tetap bersamanya. Selalu.
Aku tak ingin jatuh terlalu dalam. Aku tak ingin semua pikiranku tertuju padanya. Aku tak ingin ia menahanku terlalu lama. Aku ingin lepas dari dekapannya. Aku ingin seperti dulu. Tanpa cinta.

Dan, satu hal.
Aku tak ingin mencintainya.

Tapi aku melakukannya.